Rabu, 23 Januari 2013

Wanita karir dan ibu rumah tangga

Dari Wanita Karir Jadi Ibu Bahagia di Rumah MERI yang sudah berusia 36 tahun menyadari bahwa ketika dia berhasil di dalam karirnya, ada dua target pribadi yang tidak berhasil dicapainya dengan mulus sesuai dengan rencananya, yakni menikah pada usia 32 dan punya anak di usia 33.

Rencana itu termasuk di dalam daftar agenda target yang ingin dicapainya ketika berusia 30 tahun sambil berdiskusi dengan kedua orangtuanya. “Saya sadar saya belum bisa mewujudkan impian saya itu,” kata Meri. “Saya terlalu fokus terhadap karir, padahal saya selalu, sejak kecil, mendambakan ingin menjadi seorang ibu yang baik. Saya agak gugup jadinya karena dalam usia yang saya targetkan saya masih juga belum menikah dan khawatir saya akan terlalu tua untuk itu.”
Berubah dari karir kepada keluarga ternyata tidak harus terjadi secara alamiah. Ibu Meri juga wanita yang sangat fokus terhadap karir, dan Meri sangat bangga akan kinerja profesional ibunya. Namun ketika ibunya didiagnosa mengidap kanker, hingga akhirnya kalah dalam pertarungannya melawan penyakit itu, Meri sadar bahwa dia tidak bisa membuang-buang waktu lagi untuk punya kehidupan dan keluarga yang didambakannya.
“Sebelum punya anak, saya masih saja menjadi orang yang terus bergelut dengan usaha hingga sejauh mana saya bisa menghasilkan uang, menjadi pengusaha, punya mobil merk tertentu, dan punya jalan hidup tersendiri,” kata Meri.
“Tidak pernah bisa saya bayangkan bagaimana menjadi bahagia sebagai seorang ibu di rumah dan melakukan tugas-tugas sederhana, dan menyiapkan makan tiga kali sehari. Semua berbeda 180 derajat dari identitas dan jalan hidup seseorang.”
Membuat transisi menjadi seorang ibu baru memerlukan sejumlah penyesuaian bagi Meri. Terutama dalam caranya memandang kehidupannya yang baru. Berikut beberapa hal yang dilakukannya setiap hari di rumah dengan putranya yang dirasakan seperti hadiah luar biasa baginya.
Hal Sederhana
“Sebelumnya saya benar-benar heran dan tidak mengerti bagaimana wanita bisa bahagia tinggal di rumah sepanjang hari dengan anak-anaknya,” kata Meri mengakui. Katanya, dia sungguh sangat kagum menemukan kenyataaan bagaimana kita bisa merasa begitu bahagia walau dengan hal-hal sederhana yang kita hadapi di rumah. Misalnya duduk-duduk di luar sambil meniup balon untuk putranya. Membawanya pergi berenang di kolam, pergi ke taman, ke pantai, sambil memperhatikannya memain-mainkan bebatuan. Hanya memperhatikan bagaimana dia menemukan banyak hal di dunia ini.
“Setiap saat ketika kami bersama, setiap saat setiap hari menjadi demikian luar biasa rasanya. Saya sungguh tidak percaya bagaimana hal-hal paling sederhana sekalipun telah membuat saya sangat bahagia,” katanya.
Temukan Petualangan
Menurut Meri, banyak ibu baru takut meninggalkan rumah atau tidak ingin sampai terlibat percekcokan di luar. Namun menurut Meri, pergi ke luar dan berbuat sesuatu jelas sangat membantu dirinya dalam membentuk kerangka pemikirannya yang benar.
Pergilah berjalan-jalan, apakah ke taman, ke mal, atau mengunjungi teman-teman. Memberikan hal-hal baru kepada mereka untuk dianalisa akan membuat mereka aktif, dan udara segar akan membuat Anda menjadi tidak kerasan untuk terus terkurung di rumah, katanya.
Lakukan Perubahan
Kesabaran memerlukan waktu untuk berproses, dan jika Anda merasa kewalahan terhadap sesuatu atau terdapat kecenderungan mengecewakan Anda, tinggalkanlah, dan lakukanlah perubahan. “Banyak sekali ibu-ibu baru yang takut meninggalkan anak-anak mereka, walau sebentar, namun jika Anda menginginkan kesegaran, lakukanlah,” kata Meri.
“Anda kan bisa meletakkan bayi Anda di tempat tidur bayinya, atau di kursi rodanya, dan melangkahlah ke luar, hirup napas dalam-dalam, dan kalau perlu teleponlah seorang teman.” Beberapa menit menghirup udara segar akan membangun kembali antusiasme Anda, perspektif Anda dan kesabaran Anda. Dan itu akan menjadi yang terbaik bagi bayi Anda.
Minta Bantuan.
Ketika menghadapi suatu masalah, hubungilah teman-teman, keluarga, ibu-ibu baru lain, dan terutama suami Anda. Kalau perlu mintalah bantuan babysitter atau anggota keluarga. Usahakanlah cara untuk bisa mendapatkan bantuan guna memecahkan masalah Anda.
Perhatikan Diri Sendiri
“Pelajaran paling penting yang saya dapatkan ialah bahwa saya harus menyediakan waktu untuk diri saya sendiri juga,” kata Meri. “Selama lima bulan saya di rumah, dengan putra saya, dengan diri saya sendiri, tanpa teman atau anggota keluarga membantu saya, dan saya menemukan jalan buntu. Saya kemudian menyadari, kalau saya tidak bisa bahagia sebagai seseorang, maka saya tidak akan pernah bisa bahagia sebagai seorang ibu.”
Meri mulai merasa hidup lagi, kembali membenahi dan merawat rambut dan kukunya. Bertemu dengan teman-teman wanitanya untuk becengkerama. Pokoknya melakukan apa saja yang bisa membuat dia merasa juga memperhatikan dirinya.
“Ketika putra saya lahir, dokter meletakkannya di atas perut saya, saya memperhatikannya, dan betapa kesempurnaan terasa menggelayuti perasaan,” kata Meri. “Dalam sekejap, saya menyadari adanya tanggung-jawab saya untuk hidup ini. Keadaan itu benar-benar membuat saya berubah dan merubah hidup saya.” katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar